Preparat Squash

Preparat pejetan atau yang disebut dengan squash preparation merupakan preparat yang dibuat dengan cara memejet sebuah objek diatas gelas objek atau kaca preparat dengan menggunakan ibu jari. Preparat pejetan biasanya digunakan untuk melihat proses mitosis pada akar alium cepa (Budipramana,1992).

Langkah pertama dalam menyiapkan materi segar untuk pengamatan mikroskopis adalah fiksasi. Fiksasi juga merupakan langkah awal yang penting dalam membuat sediaan utuh maupun sediaan sayatan. Tujuan fiksasi adalah menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah kerusakan jaringan, mengawetkan komponen-komponen sitologis dan histologis, mengawetkan keadaan sebenarnya, mengeraskan materi-materi yang lembek sehingga  akan terjadi koagulasi protoplasma maupun elemen-elemen di dalam protoplasma, jaringan dapat diwarnai sehingga bagian-bagian dari jaringan dapat mudah dikenali. Secara ringkas fiksasi terdiri dari dua proses yang jelas, yaitu mematikan dan menetapkan (Gunarso 1986).

Langkah pertama dalam menyiapkan materi segar untuk pengamatan mikroskopis adalah fiksasi. Fiksasi juga merupakan langkah awal yang penting dalam membuat sediaan utuh maupun sediaan sayatan. Tujuan fiksasi adalah menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah kerusakan jaringan, mengawetkan komponen-komponen sitologis dan histologis, mengawetkan keadaan sebenarnya, mengeraskan materi-materi yang lembek sehingga  akan terjadi koagulasi protoplasma maupun elemen-elemen di dalam protoplasma, jaringan dapat diwarnai sehingga bagian-bagian dari jaringan dapat mudah dikenali. Secara ringkas fiksasi terdiri dari dua proses yang jelas, yaitu mematikan dan menetapkan. (Gunarso,1986).

Suatu fiksatif dikatakan baik jika mempunyai kemampuan untuk mengendapkan kromatin, mempunyai kemampuan untuk mematikan dengan segera, mempunyai kemampuan untuk mangautolisis protein, mencegah terjadinya dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri, dan dapat menciptakan keadaan pH yang sesuai untuk jaringan yang telah difiksasi (Arisworo, 2000).

ALAT

  1. Botol Flakon                         2 buah
  2. Mikroskop                             1 buah
  3. Petridis                                  3 buah
  4. Objek glass                           4 buah
  5. Pipet                                      2 buah
  6. Kuas kecil                             2 buah
  7. Nampan                                1 buah
  8. Pembakar Spirtus                  1 buah
  9. Kaki tiga                               1 buah
  10. Gelas ukur                             1 buah
  11. Korek                                    1 buah
  12. Termometer                           1 buah
  13. Silet                                       2 buah
  14. Kertas label                           secukupnya
  15. Korek api                              1 buah
  16. Stopwatch                             1 buah
  17. Deck glass                             4 buah

BAHAN

  1. Asam Asetat 45 %
  2. Ujung akar Alium cepa ( 3 mm dari ujung )
  3. Air
  4. Larutan HCl 1 N
  5. Safranin 1 %
  6. Gliserin

 

  1. Cara Kerja

1)   Mengelupas kulit bawang merah (Alium cepa) 2-3 lapis sampai kelihatan calon akar.

2)   Melakukan penanaman dengan cara meletakkan biji bawang merah (Alium cepa) diatas botol flakon yang sudah diisi air penuh sampai 1 minggu sebelum melakukan pengamatan.

3)   Setelah 1 minggu, melakukan pengamatan pada akar bawang merah (Alium cepa)

4)   Memotong ujung akar yang paling pendek dari bawang merah (Alium cepa) 3 mm sebanyak 10 potongan.

v Tahap Fiksasi

1)   Memasukkan potongan akar Bawang merah (Alium cepa) pada 2 tabung flakon masing-masing diberi 5 potongan lalu beri larutan asam asetat 45%.

2)   Memanaskan air dalam Petridis sampai 500 C.

3)   Setelah 500 C letakkan botol flakon yang berisi akar bawang merah (Alium cepa) diatas Petridis yang berisi air tadi.

4)   Merendam sampai 15 menit pada suhu 500 C.

v Tahap Pencucian

1)   Mengambil larutan asam asetat 45 % dalam botol flakon sampai habis dengan menggunakan pipet.

2)   Melakukan pencucian dengan air sebanyak 3 kali 1 sampai 3 menit.

3)   Membuang airnya sampai habis dengan menggunakan pipet.

v Tahap Hidrolisa

1)   Memasukkan larutan HCl 1 N kedalam botol flakon sampai akar bawang merah (Alium cepa) terendam semua.

2)   Memanaskan air dalam Petridis sampai suhu 600 C.

3)   Setelah 600 C letakkan botol flakon yang berisi larutan HCl 1 N dan akar bawang merah (Alium cepa) tadi di atas petridis selama 30 detik.

4)   Mengambil larutan HCl 1 N sampai habis dengan menggunakan pipet.

5)   Mencuci dengan air sebanyak 2-3 kali.

6)   Membuang airnya sampai habis dengan menggunakan pipet, sehingga yang tertinggal hanya potongan akar bawang merah (Alium cepa).

 

v Tahap Pewarnaan

1)   Memasukkan safranin 1 % ke dalam botol flakon yang berisi akar bawang merah (Alium cepa) tadi.

2)   Merendam selama 20-30 menit.

v Tahap Mounting

1)      Mengambil 1 ujung akar bawang merah (Alium cepa), meletakkan di atas gelas benda dan ditutup dengan deck glass.

2)      Melakukan squash dengan cara menekan deck glass (tepat di bawahnya ada ujung akar) hingga hancur.

3)      Mengamati di bawah mikroskop dan kemudian menyimpan foto/gambar hasil pengamatan.

 

Gambar 1. Hasil pengamatan akar Alium cepa dengan metode squash

 

Keterangan gambar :

no 1                 : Sitoplasma

no 2                 : nukleus

no 3                 : dinding sel

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam membuat preparat pejetan untuk mengamati proses pembelahan mitosis pada akar bawang merah (Alium cepa), terlebih dahulu disediakan bawang merah yang pada bagian bawahnya diiris untuk tempat tumbuhnya akar. Setelah beberapa hari atau seminggu, akar bawang merah tersebut dipotong diusahakan pemotongan dilakukan pada pukul 24.00 WITA hal itu dikarenakan frekuensi pembelahan mitosis pada saat itu sangat tinggi. Sehingga  jika pemotongan akar bawang merah dilakukan pada saat tersebut kemungkinan untuk menemukan fase-fase atau tahap-tahap pembelahan mitosis menjadi lebih besar .

Setelah akar bawang merah dipotong sepenjang 3 mm, akar bawang merah tersebut dimasukan kedalam botol flacon yang berisi larutan asam asetat 45 %, hal ini dilakukan untuk mengfiksasi akar bawang merah ( mematikan sel atau jaringan tanpa merusak sel atau jaringan tersebut ). Setelah itu, mengambil larutan asam asetat lalu mencuci akar bawang merah (Alium cepa) dengan air selama 3 kali. Hal ini dilakukan untuk membersihkan akar bawang merah (Alium cepa) dari larutan asam asetat.

Setelah itu, memasukkan HCL 1 N kedalam botol flacon sampai akar bawang merah (Alium cepa) terendam semua. Setelah selesai, seperti sebelumya sisa-sisa HCL 1 N pada akar bawang merah tersebut, diambil dan dikeluarkan dari botol flakon. Kemudian potong bagian yang putih pada akar bawang merah sepanjang 1 mm, lalu akar bawang merah tersebut ditetesi dengan acetocarmin atau metil blue.

Tahap selanjutnya pewarnaan dengan memasukkan safranin ke dalam botol flakon dan merendam akar bawang merah (Alium cepa) selama 20-30 menit. Setelah itu akar bawang merah ditutup dengan kaca penutup kemudian pejet dengan menggunakan ibu jari atau jari yang lain terserah dengan keinginan. Kemudian  preparat diamati dibawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran sesuai agar bisa terlihat jelas proses mitosis yang terjadi pada akar bawang merah tadi. Pada proses mitosis dapat dilihat pembelahan-pembelahan berdasarkan bentuk pembelahan.

Fungsi bahan-bahan yang digunakan :

  1. Safranin  fungsinya untuk memberi warna pada spesimen yang diamati

b. Alkohol fungsinya sebagai senyawa desinfektan yang dipakai untuk memutihkan akar bawang merah.

  1. HCl fungsinya  untuk menghidrolisis dan menghilangkan sisa-sisa zat kimia yang sebelumnya.

Preparat pejetan atau yang disebut dengan squash preparation merupakan preparat yang dibuat dengan cara memejet sebuah objek diatas gelas objek atau kaca preparat dengan menggunakan ibu jari. Preparat pejetan biasanya digunakan untuk melihat proses mitosis pada akar alium cepa.

Ketika ingin mempelajari bentuk kromosomsuatu sel, maka saat yang tepat adalah pada waktu sel sedang membelah baik secara mitosis maupun meiosis. Pembelahan mitosis terjadi pada sel tubuh yang menghasilkan sel yang sama dengan sel sebelumnya dan bersifat diploid, sementara pembelahan meiosis terjadi pada sel gamet yang menghasilkan sel yang bersifat haploid.

Prinsip mitosis terletak pada tingkah laku kromosom selama berkembang biak. Kromosom adalah benda-benda dalam inti sel yang hanya dapat terlihat pada waktu sel membelah diri karena dapat mengikuti zat warna tertentu. Kromosom ini mempunyai kemampuan menduplikasikan diri yaitu membentuk kromosom-kromosom baru yang serupa dengan kromosom semula, selanjutnya kromosom-kromosom ini akan di berikan kepada sel anak. Jaringan yang mudah untuk ditelah mitosis ialah mensistem pada titik tumbuhan akar bawang mewarnainya dengan zat pewarna yang sesuai akan tampak kromosom-kromosom dalam sel-sel yang membelah dari.Semua mahluk hidup di susun oleh sel akan tetapi jumlah dan ukuran sel yang dimiliki oleh setiap jenis mahluk hidup sudah tentu memiliki pebedaan-perbadaan  adanya perbedaan ini kita dapatkan makluk hidup yang  besar, kecil bahkan mikroskopis seperti jamur dan protozoa.Pertumbuhan dan perkembangan setiap organisme tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan sel-sel yang di milikinya secara terus menerus dalam proses pembelahan sel biasanya kita melihat adanya benang-benang.Pada mitosis bahkan inti sal terbagi sedemikian rupa sehingga suatu sel dihasilkan dan dua buah sel anaknya yang masing-masing memiliki sifat genetik sama, mitosis berlangsung pada semua sel, kecuali pada sel-sel yang akan menjadi sel kelamin.

Pembelahan mitosis dibedakan atas dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase, dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada dua sel anak hasil pembelahan.

a. Kariokinesis

Kariokinesis selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya. Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro tubulus dan sentriol. Cirri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:
1) Profase

ü Benang – benang kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom membelah menjadi kromatid dengan satu sentromer.

ü Dinding inti (nucleus) dan anak inti (nucleolus) menghilang.

ü Pasangan sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan.

ü Serat – serat gelendong atau benang – benang spindle terbentuk diantara kedua kutub pembelahan.
2)  Metafase

Setiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong melalui sentromer atau kinetokor.
3) Anaphase

Sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju kekutub yang berlawanan. Pada akhir nanfase, semua kroatida sampai pada kutub masing – masing.

 

4) Telofase
Pada telofase terjadi peristiwa berikut:

ü  Kromatida yang berada pada kutub berubah menjadi benang–benang kromatin kembali.

ü  Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk dua inti baru.

ü   Serat – serat gelendong menghilang.

ü  Terjadi pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya , terbentuk dua sel anak yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.

Praktikum yang dilakukan berhasil karena menemukan satu sel yang terpisah pada gambar hasil pengamatan (sel kelihatan jelas). Preparat yang berhasil dibuat adalah tipis sehingga pengamatannya mudah dan bisa jelas terlihat. Faktor keberhasilan dalam praktikum antara lain :

  1. Ketelitian praktikan dalam setiap perlakuan pada preparat.
  2. Suhu pada saat pemanasan dalam keadaan stabil.
  3. KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melekukan pengamatan khususnya perparat pejetan yang harus diperhatikan adalah tingkat pencacahan karena tingkat ini membutuhkan waktu yang sangat lama karena dalam mencacah harus semuanya benar-benar terpotong (tersayat). Supaya bila dipejet dalam pereparat semua akar bawang merah akan menyebar sehingga dengan mudah dapat dilihat dibawah mikroskop.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arisworo  D. 2000. General Zoologi. Jakarta: PT grafindo media pratama

Budipramana, Lukas. 1992. Mikroteknik dan Pembuatan Peraga Biologi. Surabaya : UNESA Press.

 

Gunarso W. 1986. Pengaruh Dua Jenis Cairan Fiksatif  yang Berbeda pada Pembuatan Preparat dari Jaringan Hewan Dalam Metoda Mikroteknik Parafin. Bogor: IPB Press

Sugiharto.1989. Petunjuk Praktikum Mikroteknik Tumbuhan. Banjarbaru: Universitas Lambung Mangkurat.Sugiharto.

 

About these ads

One thought on “Preparat Squash

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s