Sistematika Tumbuhan Cryptogamae (Divisi Thallophyta)

Divisi Thallophyta meliputi tumbuhan yang tubuhnya berbentuk talus. Yang disebut talus yaitu tubuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar, dari yang terdiri dari satu sel berbentuk  bulat hingga banyak sel dengan bentuk yang kadang-kadang mirip dengan kormus tumbuhan tingkat tinggi.

Algae

Phaeophyceae pada umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis saja yang hidup di air tawar. Sebagian besar Phaeophyceae merupakan unsure utama yang menyusun vegetasi alga di lautan Artik dan Antartika, tetapi beberapa marga seperti Dictyota, Sargassum, dan turbinaria merupakan alga yang khas untuk lautan daerah tropis. Kebanyakan Phaeophyceae hidup sebagai litofit, tetapi beberapa jenis dapat sebagai epifit atau endofit pada tumbuhan lain atau alga makroskopik yang lain. pada umumnya Phaeophyceae memiliki tingkat lebih tinggi secara morfologi dan anatomi diferensiasinya dibandingkan keseluruhan alga. Tidak ada bentuk yang berupa sel tunggal atau koloni (filamen yang tidak bercabang). Susunan tubuh yang paling sederhana adalah filamen heterotrikus. Struktur talus yang paling komplek dapat dijumpai pada alga perang yang tergolong kelompok (Nereocystis, Macricystis, Sargassum). Pada alga ini terdapat diferensiasi eksternal yang dapat dibandingkan dengan tumbuhan berpembuluh. Talus dari alga ini mempunyai alat pelekat menyerupai akar, dan dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana atau bercabang seperti batang pohon dengan cabang yang menyerupai daun dengan gelembung udara (Hendrawan , 2005).

Rhodophyceae dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan Bangiophycidae tidak ada. Tetapi sekarang telah ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales) tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya. Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Campbell, 2005).

Berbagai jenis alga seperti Griffithsia, Ulva, Enteromorpna, Gracilaria, Euchema, dan Kappaphycus telah dikenal luas sebagai sumber makanan seperti salad rumput laut atau sumber potensial karagenan yang dibutuhkan oleh industri gel. Begitupun dengan Sargassum, Chlorela/Nannochloropsis yang telah dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat, Osmundaria, Hypnea, dan Gelidium sebagai sumber senyawa bioaktif, Laminariales atau Kelp dan Sargassum Muticum yang mengandung senyawa alginat yang berguna dalam industri farmasi. Pemanfaatan berbagai jenis alga yang lain adalah sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel ataupun sebagai pupuk organic (Setiawan, 2004).
Kemampuan alga dalam menyerap ion-ion logam sangat dibatasi oleh beberapa kelemahan seperti ukurannya yang sangat kecil, berat jenisnya yang rendah dan mudah rusak karena degradasi oleh mikroorganisme lain. Untuk mengatasi kelemahan tersebut berbagai upaya dilakukan, diantaranya dengan mengimmobilisasi biomassanya. Immobilisasi biomassa dapat dilakukan dengan mengunakan (1) Matrik polimer seperti polietilena glikol, akrilat, (2) oksida (oxides) seperti alumina, silika, (3) campuran oksida (mixed oxides) seperti kristal aluminasilikat, asam polihetero, dan (4) Karbon. Berbagai mekanisme yang berbeda telah dipostulasikan untuk ikatan antara logam dengan alga/biomassa seperti pertukaran ion, pembentukan kompleks koordinasi, penyerapan secara fisik, dan pengendapan mikro. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa mekanisme pertukaran ion adalah yang lebih dominan. Hal ini dimungkinkan karena adanya gugus aktif dari alga/biomassa seperti karboksil, sulfat, sulfonat dan amina yang akan berikatan dengan ion logam (Harris, 2001).

Alginat merupakan konstituen dari dinding sel pada alga yang banyak dijumpai pada alga coklat (Phaeophycota). Senyawa ini merupakan heteropolisakarida dari hasil pembentukan rantai monomer mannuronic acid dan gulunoric acid. Kandungan alginat dalam alga tergantung pada jenis alganya. Kandungan terbesar alginat (30-40 % berat kering) dapat diperoleh dari jenis Laminariales sedangkan Sargassum Muticum, hanya mengandung 16-18 % berat kering. Pemanfaatan senyawa alginat didunia industri telah banyak dilakukan seperti natrium alginat dimanfaatkan oleh industri tektil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan. Senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai bahan pembuatan pelapis kapsul dan tablet. Alginat juga digunakan dalam pembuatan bahan biomaterial untuk tehnik pengobatan seperti micro-encapsulation dan cell transplantation (Ramellow, 2000).

Contoh tumbuhan dari sub divisi Algae

a. Nama Daerah              : Alga Pirang
b. Nama Ilmiah               : Sargassum sp.
c. Gambar dan Klasifikasi

Gambar

Sargassum sp.

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Thallophyta

Sub divisi: Algae

Classis: Phaeophyceae

Ordo: Fucales

Familia: Fucaceae

Genus: Sargassum

Species: Sargassum sp.

 

 

 

 

d. Deskripsi

Sargassum sp. Tumbuhan algae yang tallusnya memiliki percabangan menggarpu. Alat perekatnya berbentuk cakram, memiliki warna coklat karena warna yang dominan muncul adalah zat warna fikosianin yang menutupi zat warna lain. Mempunyai rhizoid dan melekat pada substrat. Substrat merekat pada karang-karang. Ujung-ujung cabang thallusnya agak membesar dan bergerigi, disebut konseptakel, tubuhnya seperti pohon, habitatnya diair laut. Bagian tubuhnya dapat dibedakan menjadi cauloid, filoid, dan rhizoid. Reproduksi secara vegetatif dengan pembentukan tunas, gametofit dengan pembentukan spora yang berasal dari antheridia dan oogonia.

 

a. Nama Daerah       : Alga Merah
b. Nama Ilmiah         : Glacilaria corticata
c. Gambar dan Klasifikasi

Gambar

Gracilaria corticata

Klasifikasi

Divisio: Thallophyta

Sub division: Algae

Classis: Rhodophyceae

Sub classis: Floridae

Ordo: Nemastomales

Familia: Gracilariaceae

Geuus: Gracilaria

Species:Gracilaria corticata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Deskripsi

Glacilaria corticata memiliki tallus yang masih sederhana dengan percabangan menggarpu. Bentuk tubuh memanjang. Mempunyai warna merah karena mengandung zat warna fikoeritrin yang lebih dominan menutupi zat warna lain yaitu klorofil-a dan karotenoid. Sehingga tumbuhan ini masuk dalam classis Rhodophyceae dan sub classis Floridae. Tubuhnya agak kenyal dan terkenal sebagai penghasil agar-agar. Habitatnya diair laut, hidupnya melekat pada substrat, substrat berupa karang-karang. Reproduksi dengan pembentukan spora. Struktur organ dari Glacilaria corticata hanya terdiri dari rhizoid dan tallus dengan percabangan menggarpu.

 

 

Pembahasan

Alga merupakan protista yang bertalus memiliki pigmen dan klorofil. Tubuhnya terdiri atas satu sel (uniseluler) dan ada pula yang banyak sel (multiseluler). Yang Uniseluler umumnya sebagai Fitoplankton sedang yang multiseluler dapat hidup sebagai Nekton, Bentos atau. Habitat alga adalah air atau di tempat basah, sebagai Epifit atau sebagai Endofit.
Klasifikasi alga didasarkan pada morfologi sel-sel reproduksin, pigmen dalam plastida dari sel vegetatif, dan macam ,makanan cadangan .Semua alga mengandung klorofil tetapi ada pigmen lain yang ,menyusun yang terkandung dalam plastida.
Ada dua macam plastida pada alga (kecuali Cyanophyta)
a. Kloroplas : mengandung klorofil dan dapat juga terkandung pigmen lain yaitu xantofil dan karotin.
b. Kromoplas (kromatofor ) pembawa zat warna lain dari krorofil seperti pigmen xantofil dan karotin.
Dengan demikian alga dapat berfotosintesis.Ganggang berkembang biak dengan cara vegetatif dan generatif. Sub divisi alga dibagi menjadi 7 classis yaitu :  flagellata, diatome, chlorophyceae, conjugate, charophyceae, phaeophyceae, rhodophyceae. Preparat yang kami dapatkan berasal dari Classis Pheophyceae dan Rhodophyceae.

a. Alga Pirang (Pheophyceae)

Alga pirang / alga keemasan (Chrysophyta, berasal dari bahasa Yunani phyros; keemasan) dinamai menurut warnanya, yang dihasilkan  oleh karoten kuning selain itu ganggang ini juga mengandung klorofil a dan c serta pigmen asesoris yakni Xantofil. Banyak di antara alga pirang ini hidup di antara plankton air tawar dan air laut. Beberapa spesies adalah miksotrofik yang menyerap senyawa organik yang terlarut atau menjulurkan pseudopodianya untuk menelan partikel makanan dan bakteri. Sebagian besar alga pirang adalah uniseluler, akan tetapi ada juga yang membentuk koloni. Sel-selnya berciri khas sebagai biflagellata  (berflagel ganda), di mana kedua flagelnya terpaut dekat salah satu ujung sel tersebut.  Classis ini di bagi menjadi 4 ordo yaitu :

1. Laminariales : thallusnya dapat mencapai panjang 60 m, sumbu thallus bebas, mempunyai cabang-cabang thallus berbentuk lembaran yang bergantungan.
2. Dictyotales : talus berbentuk pita yang bercabang-cabang menggarpu.
3. Fucales : talus berbentuk pita, kaku seperti kulit , bercabang-cabang menggarpu dan melekat dengan alat pelekat yang berbentuk cakram. Preparat yang kami dapatkan adalah  sargassum sp

Alga pirang (Sargassum sp.)

Sargassum sp. digolongkan kedalam divisi Thallophyta karena tubuhnya masih berupa thallus. Dikatakan tumbuhan thallus karena tumbuhan ini belum berkormus atau belum bisa dibedakan akar, batang dan daunnya.

Sargassum sp. termasuk ganggang coklat (phaeophyceae) karena pigmen warnanya yang coklat, bersifat multiseluler, mempunyai panjang 2,5 cm dan lebar 2 cm. kebanyakan spesies ini tumbuh menempel sepanjang pantai berbatu didaerah tropika . Melekat pada batu pantai (substrat) yang keras pada zona subtidal tengah dan bawah.

Alga ini mempunyai thallus yang struktur morfologinya paling kompleks diantara marga  dalam Fucales. Hal ini dikarenakan thallusnya berbentuk pita, kaku seperti kulit, bercabang menggarpu dan melekat dengan alat pelekat yang berbentuk cakram. Ujung-ujung cabang thallus itu agak membesar dan mempunyai lekukan-lekukan yang disebut konseptake

4. Phaeosporales

Phaeosporales memiliki perawakan seperti cladophora, tetapi ada pula yang mempunyai thallus yang lebih tinggi tingkatannya. Perkembangan aseksual dengan zoospora dan asetil dengan isogamy.

b. Alga Merah

Alga merah atau Rhodophyceae adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil.

Alga ini pada umumnya banyak sel (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran.

Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus.

Rhodophyta (algae merah) umumnya warna merah karena adanya protein fikobilin, terutama fikoeritrin, tetapi warnanya bervariasi mulai dari merah ke coklat atau kadang-kadang hijau karena jumlahnya pada setiap pigmen. Dinding sel terdiri dari sellulosa dan gabungan pektik, seperti agar-agar, karaginan dan fursellarin. Hasil makanan cadangannya adalah karbohidrat yang kemerah-merahan. Ada perkapuran di beberapa tempat pada beberapa jenis. Jenis dari divisi ini umumnya makroskopis, filamen, sipon, atau bentuk thallus, beberapa dari mereka bentuknya seperti lumut. Classis ini dibagi 5 ordo:

1. Gelidiales
Tubuh ganggang ini agak keras, silindris atau memipih dengan cabang-cabang yang menyirip.
2. Cryptonemiales
Tubuhnya menyerupai kerak dan melekat di atas batu karang.
3. Gigartinales
Tubuhnya silindris dengan garis tengah 2-3 mm bercabang-cabang.
4. Ceramiales
Tubuhnya silindris atau memipih, titik tumbuh berada dalam suatu cekungan spikal pada ujung-ujung percabangan.
5. Nemastomales

preparat yang kami amati adalah ordo nemastomales.

Yaitu terkenal sebagai penghasi agar-agar.

Contoh : Gracilaria corcicata Gracilaria corticata termasuk ke dalam kelas Rhodophyceae karena berwarna merah atau pirang kemerah-merahan. Kromatofora berbentuk cakram atau suatu lembaran, mengandung klorofil-a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup oleh fikoeritrin yang dominan.

Ganggang ini dikelompokkan dalam anak kelas Floridae karena thallus masih sederhana, tetapi umumnya hamper selalu bercabang-cabang yang beraturan dan mempunyai beraneka ragam bentuk seperti benang dengan percabangan menyirip atau menggarpu.

Selain itu juga dikelompokkan ke dalam ordo Nemastomales karena ganggang ini dapat dimanfaatkan sebagai penghasil agar-agar (mengandung gelatin).

1)      Perkembangbiakan

Alga merah berkembangbiak secara vegetatif dan generatif.

a)         Perkembangbiakan vegetatif

ganggang merah berlangsung dengan pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau talus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi ganggang jantan atau betina yang sel-selnya haploid.

b)        Perkembangbiakan generatif

ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit.

 

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A. 2005. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Harris. 2001. Binding of Metal Ions by Particulate.

Hendrawan, Abdullah. 2005. Petunjuk Praktikum Biologi Laut. Yogyakarta: Jurusan Perikanan UGM.

Ramelow. 2000. Kandungan Alga Sebagai Penunjang Makalah Ilmiah. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Tjitrosoepomo, Gembong. 2000. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Semoga bermanfaat, Salam Khayasar!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s