Sistematika Tumbuhan Cryptogamae (Divisi Pteridophyta)

Tumbuhan paku atau paku-pakuan, (Pteridophyta atau Filicophyta), adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi. Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun).

Tinjauan Pustaka

Tumbuhan paku dibagi berdasarkan ciri morfologi dan molekular. Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain. Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota Divisi tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum) sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marchantia. Akar tumbuhan paku berupa akar serabut. Pada akar paku, xilem terdapat di tengah dikelilingi floem membentuk berkas pembuluh angkut yang konsentris. Batangnya jarang tumbuh tegak di atas tanah, kecuali pada paku tiang (Alsopila sp. dan Cyathea sp.). Batang tersebut kebanyakan berupa akar tongkat (Rhizoma). Tipe berkas pembuluh angkut batang sama dengan akar, yaitu tipe konsentris (Sarwuni, 2003).

Warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habitus maupun cara hidupnya, lebih-lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jeni-jenis paku yang sangat kecil dengan daun-daun yang kecil-kecil pula dengan struktur yang masih sederhana, ada pula yang besar dengan daun-daun yang mencapai ukuran panjang sampai 2 m atau lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan garis tengah batang sampai 2 m, dari segi cara hidupnya ada jenis – jenis paku yang hidup teresterial (paku tanah), ada paku epifit, dan ada paku air. Dimasa yang silam (jutaan tahun yang lalu), hutan-hutan di bumi kita terutama tersusun atas warga tumbuhan paku yang berupa pohon-pohon yang tinggi besar, dan kita kenal sisa-sisanya sekarang sebagai batu bara. Jenis-jenis yang sekarang ada jumlahnya relative kecil (lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah warga divisi lainnya) dapat dianggap sebagai relic (peninggalan) suatu kelompok tumbuhanyang dimasa jayanya pernah pula merajai bumi kita ini, yaitu dalam zaman paku (Palaeozoicum). Jenis-jenis yang sekarang masih ada sebagian sebagian besar bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempa-tempat yang teduh dengan derajat kelembaban yang tinggi, paling besar mencapai ukuran tinggi beberapa meter saja, seperti terdapat pada marga Cyatheadan Alsophila, yang warganya masih berhabitus pohon dan kita kenal antara lain di Indonesia sebagai paku tiang(Heywood, 2003).
Pteridophyta mempunyai gametofit bersifat thalus, sporofitnya dapat dibedakan menjadi akar, batang, dan daun memiliki batang bercabang-cabang menggarpu, akar mempunyai kaliptra. Pada akar dan batang dijumpai berkas pengangkutan. Pteridophyta dapat tumbuh menjulang ke udara, ada yang berbentuk pohon dan dapat mencapai beberapa meter. Pteridophyta dibedakan menjadi 4 divisi yaitu Psillophytinae, lycopodinae, Equisitinae, dan Filicinae (Tjitrosoepomo, 2000).

Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain. Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat (Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae). Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog (Kimball, 1999).

Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru (Hackle, 1999).

Contoh Tumbuhannya:

a. Nama Daerah               : Semanggi
b. Nama Ilmiah                : Marsilea crenata
c. Kunci Determinasi     : 1a, 17b, 18a. . . . . .Familia 2. Marsileaceae
Genus :          Marsilea

Species: Marsilea crenata

d. Gambar dan Klasifikasi

Gambar

Marsilea crenata

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Pteridophyta

Classis: Filicinae

Sub Classis: Hydropterides

Ordo: Marsileales

Familia: Marsileaceae

Genus: Marsilea

Species: Marsilea crenata

e. Deskripsi

   Marsilea crenata merupakan tumbuhan paku yang susunan tubuhnya sudah sempurna diantara tumbuhan paku yang lain. Daunnya sudah berupa helaian. Marsilea crenata merupakan tumbuhan paku yang hidup diair dan heterospora, sehingga masuk dalam subclassis hydropterides. Masuk dalam ordo Marsileales karena hidupnya diperairan dangkal dengan akar didalam tanah.

Masuk dalam familia Marsileaceae karena hidupnya diperairan yang dangkal, berakar didalam tanah. Jarang berupa tumbuhan darat sejati. Bila didarat berbentuk seperti umbi. Batangnya merayap menyerupai rimpang. Sebagai tumbuhan air. Sorusnya dilindungi oleh suatu kantung yang disebut sporokarpium. Setiap sporokarpium berisi makrosporangium dan mikrosporangium. Sporokarpium berbentuk ginjal atau lonjong. Sporokarpium yang masak pecah dengan dua katup. Daunnya mempunyai empat helaian, dan daun yang masih muda menggulung, tangkai daun panjang.

   Marsilea crenata dapat dijadikan bahan makanan, yakni dijadikan sayuran. Semanggi ini dapat ditemukan didaerah paya-paya, di sawah-sawah dan tanah yang digenangi air. Reproduksi secara sporofit dengan pembentukan spora, gametofit dengan pembentukan protalium.

a. Nama Daerah           : Sisik Naga
b. Nama Ilmiah            : Drymoglossum piloselloides
c. Kunci Determinasi : 1a, 17b, 18b, 19b, 22b, 23b, 24b, 25b, 26b. . . . . . . Familia 11. Polypodiaceae

Genus 8. Drymoglossum

Species: Drymoglossum piloselloides

d. Gambar dan Klasifikasi

Gambar

Drymoglossum piloselloides

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Pteridophyta

Classis: Filicinae

Sub Classis: Filices

Ordo: Filicales

Familia: Polipodiaceae

Genus: Drymoglossum

Species: Drymoglossum piloselloides

e. Deskripsi

   Drymoglossum piloselloides merupakan tumbuhan paku sejati karena daunnya sudah berupa helaian. Tumbuhan ini masuk kedalam sub classis Filices atau Leptosporangiatae karena pembentukan sporangiumnya berasal dari satu sel pemula, dan dinding sporangiumnya hanya terdiri dari satu lapis sel saja.Masuk dalam ordo Filicales karena memiliki spora yang homospor, artinya ukuran spora sama. Merupakan tumbuhan yang epifit yaitu menempel pada pohon-pohon yang lembab.

Masuk kedalam Familia Polypodiaceae sporangiumnya terkumpul menjadi sorus. Sporangium muncul dari penonjolan spora. Daun berwarna hijau karena mengandung klorofil. Daun steril berbentuk oval dan berwarna hijau. Sedangkan daun fertile berwarna hijau bentuk memanjang dan ada penonjolan pada jaringan daunnya yang berwarna merah yang merupakan kumpulan spora. Akar panjang dengan batang yang memanjat. Tangkai daun memendek, berwarna coklat.

Drymoglossum piloselloides dapat ditemukan ditempat lembab dan habitatnya didaerah teresterial, dipohon-pohon. Alat reproduksi berupa spora. Gametofitnya berupa protalium.

Bahasan

Pteridophyta merupakan suatu divisi yang warganya jelas mempunyai kormus, akan tetapi pada tumbuhan paku belum menghasilkan biji. Secara umum tumbuhan paku terbagi dalam 4 Classis yaitu : Filicinae, Equisetinae, Lycopodiinae, Psilophytinae.

Classis Psilophytinae merupakan tumbuhan paku yang paling sederhana. Belum mempunyai daun, atau berdaun sangat sederhana dan belum punya akar, sehingga sering disebut paku telanjang. Tetapi tumbuhan paku jenis ini sudah mempunyai berkas pengangkut makanan dan sporangium terdapat pada cabang-cabang batang.

Classis Lycopodinae atau biasa disebut paku kawat. Sporofit dari tumbuhan ini sudah memiliki akar, batang dan daun. Batang dan akarnya bercabang menggarpu, daunnya kecil (mikrofil) tidak mempunyai lamina,tidak bertangkai dan hanya bertulang satu saja. Daun fertil (sporofil) biasanya berkumpul diujung batang merupakan sebuah rangkaian berbentuk bulir yang disebut strobilus. Tiap sporofil mempunyai 1 sporangium yang besar terletak pada bagian pangkal daun. Pada beberapa bangsa dari Classis ini didaunnya  memiliki ligula yaitu serabut kecil yang berfungsi untuk menyerap air. Berdasarkan ada tidaknya ligula Classis ini dibagi menjadi 2 sub Classis yaitu ligulopsida dan eligulopsida.

Classis Equisetinae atau biasa disebut paku ekor kuda. Sporofit dari tumbuhan paku jenis ini mempunyai batang yang bercabang-cabang, berkarang, dan berbuku-buku. Daunnya kecil seperti selaput daun yang tersusun berkarang. Sporofil berbentuk perisai dengan sejumlah sporangium pada bagian bawah. Susunan sporofil berbentuk badan seperti kerucut yang disebut strobilus. Dari Classis ini hanya tersisa 1 Sub Classis yang masih ada sampai sekarang yaitu Calamopsida dan juga hanya ada 1 Ordo yaitu Equisetales.

Classsis Filicinae, Divisi tumbuhan paku jenis ini memiliki susunan tubuh yang paling sempurna dibandingkan dengan Classis yang sebelumnya.Daunnya sudah berupa helaian dengan pertulangan daun yang bermacam-macam. Kelompok tumbuhan paku ini memiliki 2 tipe cara pembentukan sporangium yaitu : Leptosporangiatae dan Eusporangiatae. Sedangkan berdasarkan pembedanya Classis Filicinae dibagi menjadi 3 Sub Classis yaitu : Leptosporangiatae, Eusporangiatae, dan Hydropterides.

Reproduksi generative tumbuhan paku dilakukan melalui peleburan spermatozoid dan ovum. Sedang reproduksi vegetatif dengan membentuk spora. Reproduksi generatif dan vegetatif berlangsung secara bergantian melalui pergiliran keturunan (metagenesis).

Tumbuhan paku yang diperoleh pada PKL Pteridophyta adalah jenis paku Marsilea crenata dan  Drymoglossum piloselloides. Kedua spesies ini masuk ke dalam Classis Filicinae, yaitu tumbuhan paku yang susunan tubuhnya paling sempurna seh. Sehingga disebut paku sejati. Daunnya sudah berupa helaian dengan pertulangan daun yang bermacam-macam, dan ketika masih muda daun  menggulung. Pada permuukaan bawah daun fertil (sporofil) terdapat sporangium dalam sorus. Berdasarkan pembedanya classis filicinae dibedakan dalam tiga sub classis yaitu Leptosporangiatae, Eusporangiatae, dan Hydropterides.

Sub Classis Hydropterides merupakan paku air, heterosporous dan mempunyai sporokarpium. Sub Classis ini mempunyai 2 ordo yaitu Ordo Marsileales dan Ordo Salviniales.

Sub Classis Eusporangiatae mempunyai dinding sporangium yang tebal dan spora yang homosporous. Sub Classis ini mempunyai 2 ordo yaitu Ordo Ophioglossales dan Ordo Marattiales.

Sub Classis Leptosporangiatae merupakan tumbuhan paku yang berupa pohon, tidak bercabang, di bagian ujungnya terdapat roset daun, daun menyirip ganda, batang mengeluarkan banyak akar, tidak berkambium dan mempunyai dinding spora yang tipis. Sub Classis ini hanya mempunyai 1 ordo yaitu ordo Filicales.

Ordo Filicales adalah termasuk tumbuhan paku yang homospora, hidup terestrial dan epifit. Ordo ini dibagi menjadi beberapa familia yaitu: Gleicheniaceae, Schizaeaceae, Matoniaceae, Loxosomaceae, Hymenophyllaceae, Dicksoniaceae, Thysopteridaceae, Cyatheaceae dan Polypodiaceae.

Spesies yang ditemukan dalam PKL adalah Marsilea crenata, yang merupakan paku air yang hidup di paya-paya atau di air yang dangkal, berakar di dalam tanah, jarang berupa tumbuhan darat sejati. Bentuknya seperti kacang daun berwarna hijau majemuk menjari berbilang 4 dan bertangkai panjang. Bila di darat berbentuk umbi batang menyerupai rimpang yang merayap.

Tiap sporokarpium berisi makrosporangium dan mikrosporangium. Sporokarpium atau kantung sporanya melekat pada atas pangkal tangkai daun.

Marsilea crenata termasuk ke dalam Classis Filicinae yang secara umum memilki ciri-ciri merupakan paku tanah yang epifit, tidak ada batang yang sesungguhnya, akar rimpang bersisik, daun mempunyai hubungan yang beruas atau tidak dengan akar rimpang. Daun tunggal atau majemuk, daun muda menggulung spiral, dan spora berada di bawah daun kadang-kadang tepi daun berurutan.Berhabitat di tempat yang lembab, teduh, tepi sungai, tanah yang agak berair, dan terlidung dari sinar matahari. Termasuk dalam sub Classis Hydropterides dan Ordo Marsileales.

Yang berikutnya ada tumbuhan paku sisk naga (Drymoglossum piloselloides) . Paku sisik naga ini termasuk dalam kelas Filicinae karena daunnya sudah berupa helaian dan ketika masih muda, daunnya akan menggulaung di ujungnya.

Tumbuhan paku ini juga digolongkan dalam anak kelas Filices (Leptosporangiatae) karena pembentukan sporangiumnya berasal dari satu sel pemula sehingga dinding selnya tipis karena hanya terdiri dari satu lapis sel.

Ordo atau bangsa dari spesies ini adalah Filicales karena tumbuhan paku ini mempunyai spora yang homosporous, hidup di terestrial namun ada juga yang epifit. Dan termasuk suku Polypodiaceae mempunyai sorus dengan bentuk yang bermacam-macam. Letak sorus pada tepi atau dekat tepi daun, dapat pula pada urat-urat daun sehingga membentuk garis, memanjang, bulat. Rimpang merayap atau berdiri, mempunyai ruas-ruas yang panjang dan jarang memperlihatkan batang yang nyata.

Tanaman paku ini epifit tetapi bukan parasit karena dapat membuat makanan sendiri. Habitatnya di batang dan dahan pohon yang lingkungan sekitarnya lembab, pekarangan rumah, taman, ladang maupun hutan pada keadaan yang agak lembab.

     Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh dengan jarak yang pendek dan bertangkai pendek. Daun tebal berdaging, berbentuk jorong atau jorong memanjang dengan ujung tumpul atau membundar, tepi daun rata dan pangkalnya runcing. Permukaan daun tua gundul dan berambut jarang pada permukaan bawah daun. Daunnya ada 2 jenis yaitu daun fertil dan daun steril yang tidak berspora. Daun fertil bertangkai pendek atau duduk, berbentuk oval memanjang (biasanya lebih panjang dari daun steril) dan berbentuk garis dengan tangkai sepanjang 1-2 cm. Warna daun hijau sampai kecoklatan. Sori panjang dan sejajar dengan jarak tertentu dengan tulang daun tengah. Akar rimpang panjang, kecil, merayap, bersisik, melekat kuat pada tumbuhan yang ditumpangi dan berwarna cokelat. Alat reproduksinya berupa spora.

DAFTAR PUSTAKA

Hackle. 1999. Tumbuhan Paku.  Bandung: CV. Duta Pratama.

Heywood, Davis. 2003. Taksonomi Tumbuhan. Medan: Universitas Sumatra Utara Press.

Kimball, John W.1999. Biologi Edisi 5 Jilid 2. Erlangga: Jakarta

Sarwuni. 2003. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Malang: CV. Aditama.

Setiawan, Andi. 2004. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang. Jakarta: Erlangga.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2000. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Salam Khayasar!…

One thought on “Sistematika Tumbuhan Cryptogamae (Divisi Pteridophyta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s